Januari 13, 2013


BAB I
PENDAHULUAN

I.1 LATAR BELAKANG MASALAH
Bahasa adalah peralatan komunikasi yang digunakan oleh manusia. Tidak ada orang tidak menggunakan bahasa karena bahasa adalah penting dalam Transaksisosial. Bahasa digunakan ketika orang berkomunikasi dengan orang lain untuk menyampaikan tujuan ketika mereka bertemu orang lain atau diri mereka sendiri. Manusia tida kbisa lepas dari bahasa karena bahasa adalah alat yang digunakan untuk membangun Transaksisosial.
Lagu merupakan gubahan seni nada atau suara dalam urutan, kombinasi, dan hubungan temporal (biasanya diiringi dengan alat musik) untuk menghasilkan gubahan musik yang mempunyai kesatuan dan kesinambungan (mengandung irama). Dan ragam nada atau suara yang berirama disebut juga dengan lagu. Perkataan dalam lagu biasanya berbentuk puisi berirama, namun ada juga yang bersifat keagamaan ataupun prosa bebas. Lagu dapat dikategorikan pada banyak jenis, bergantung kepada ukuran yang digunakan. Lagu juga mengandung unsure persuasive, dimana didalamnya mengandung penyampaian pesan yang bertujuan untuk merubah paradigma pendengar. Unsure persuasive ini dapat menjadi suatu budaya di kalangan tertentu (Ahmad, 2007).
Maka dari itu, lagu dengan bahasa tertentu berpotensi besar mampu membawa unsure persuasive yang sangat kuat kepada khalayak, tergantung penerimaan khalayak tersebut terhadap interpretasinya kepada sebuah lagu. Penerimaan tersebut bisa dikarenakan adanya kesamaan persepsi, prinsip, bahkan bisa dikarenakan perkembangan mode. Maka dari itu, perkembangan lagu meliputi berbagai kalangan ; kalangan anak-anak, kalangan remaja, kalangan setengah baya, kalangan lanjut usia, bahkan meliputi golongan-golongan tertentu yang mempunyai pola pikir yang berbeda-beda. Jenisnya pun bermacam-macam, seperti aliran jazz, rock, pop, dll.
Realitas yang terjadi adalah lagu dapat memberikan ruang khusus kepada khalayak dan dapat mengubahnya menjadi suatu kelompok-kelompok besar, seperti aliran rock, punk, Oi, slankers, dll. Lagu dalam music tersebut mampu mengubah perspektif menjadi sebuah tindakan.
Fokus dari bentuk lagu tersebut adalah karakter music dan bahasa lisan yang digunakan. Topik utama yang menjadi pokok dalam lagu tersebut banyak dilandasi struktur sosial, yang dapat diasumsikan atau dimainkan dalam percakapan. Ini menyangkut alat dan strategi yang dipakai orang ketika terlibat dalam komunikasi, seperti memperkuat pengucapan untuk penekanan, penggunaan metafora, pilihan kata-kata tertentu untuk mempengaruhi, dan sebagainya kepada aliran tertentu. Dalam topic ini adalah aliran Punk.
Aliran Punk adalah aliran dari sekian banyak jenis lagu yang notabenenya adalah “lagu perlawanan”. Dengan berlandaskan paham sosialisme, mereka membawakan lagu-lagu dengan tema yang ekstrim, kontra terhadap segala penindasan. Tentu saja kebanyakan lagu punk merujuk pada system pemerintahan yang tidak adil. Intinya adalah penindasan, dan harapan aliran punk dalam lagunya adalah system sosialisme (melihat dari sejarahnya). Sehingga dengan adanya eksistensi lagu-lagu punk yang bertema perlawanan seringkali diartikan kebanyakan pemuda sebagai acuan semangat kepahlawanan dengan kritik pemerintahan melalui revolusi sebuah lagu, yang nantinya diharapkan mampu mengubah stereotip masyarakat terhadap pemerintah yang tidak menggunakan paham sosialisme.
Tehnik ini sebenarnya sudah berhasil sedikit mempengaruhi stabilitas nasional pada zaman orde baru dulu. Dengan menggunakan aliran punk sebagai motivator kaum buruh (ploretar), orde baru sedikit merubah system-sistem ketenagakerjaan. Dan hal itu menjadi salah satu catatan sejarah punk saat ini dengan judul lagunya “Marsinah”(seorang buruh perempuan yang sangat kontra terhadap system buruh yang kemudian hilang karena penculikan pada era soeharto). Tak begitu berbeda dengan lagu “Marsinah”, aliran punk yang menakamakan grupnya “MARJINAL” juga membuat lagu yang berjudul “APARAT BANGSAT”. Lagu ini menggambarkan ketidakbecusnan aparatur Negara dalam bentuk pelayanannya kepada masyarakat. Dengan tema orde baru, lagu ini masih eksis hingga sekarang di banyak kalangan pemuda sebagai pelariannya terhadap sikap negatif aparatur Negara.
Dengan kata lain, lagu orde lama tersebut sangat kental dengan ajakan penentangan dan ejekan kepada sistem aparatur era soeharto, namun, kini zaman telah berubah, dan system telah banyak diganti dengan system yang baru, dan lagu “APARAT BANGSAT” masih eksis di dunia music pemuda. Hal tersebut dikhawatirkan akan menambah catatan stereotip masyarakat khususnya pemuda dalam memandang aparatur Negara Indonesia, meskipun dalam pengertian historis lagu tersebut bisa dikatagorikan hanya lagu sejarah dalam aliran music punk.
Maka dari itu, peneliti menggunakan penelitian kuantitatif dengan analisis wacana yang tidak hanya mengarah pada konteks kewacanaan sosial, lingkungan, ekonomi dan politik, tapi juga melihat pengaruh terhadap public dengan relevan sesuai dengan aturan penelitian. Hal ini berhubungan dengan suatu komunitas yang dinamai masyarakat pengguna wacana di dalam interaksinya. Diharapkan publik memperhatikan struktur kewacanaan yang efektif dan komunikatif. Dengan kata lain, melalui pilihan kata yang tepat diharapkan tujuan wacana disampaikan dapat memberi pembelajaran yang positif pada berbagai kalangan masyarakat untuk malu melakukan sesuatu perbuatan, pekerjaan, kebiasaan, dan tingkah laku yang kurang baik. Melalui sindiran, ejekan dalam lagu yang bersifat sarkasme dan sinisme yang mampu mengungkapkan kondisi sosial, budaya, politik, dan lain-lain. Melalui penelitian ini peneliti akan melakukan sebuah analisis wacana yang diberi judul “STEREOTIP PEMERINTAH MELALUI ANALISIS WACANA DALAM PENGARUH LAGU APARAT BANGSAT TERHADAP MASYARAKAT”.

I.2. RUMUSAN MASALAH
            Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan permasalahannya yaitu:
a.       Bagaimanakah Stereotype yang terkandung dalam lagu “APARAT BANGSAT”
b.      Apakah lagu “APARAT BANGSAT” berpengaruh terhadap masyarakat dalam pandangannya terhadap pemerintah..
c.       Pengaruh apakah lagu “APARAT BANGSAT” terhadap masyarakat dalam pandangannya terhadap pemerintah.

I.3. TUJUAN PENELITIAN
            Adapun tujuan dari penulisan ini adalah sebagaiberikut:
a.       Mengungkap makna stereotip yang terkandung dalam lagu “APARAT BANGSAT”.
b.      Mengungkap pengaruh lagu “APARAT BANGSAT” terhadap masyarakat dalam pandangannya terhadap pemerintah.
c.       Memenuhi Syarat Ujian Akhir Semester mata kuliah Metode Penelitian Sosial
1.4  MANFAAT PENELITIAN
a.       Diharapkan masyarakat khususnya pemuda di gresik mempunyai pengetahuan baru tentang pengertian lagu aparat bangsat
b.      Diharapkan mampu mengubah paradigma masyarakat khususnya pemuda di gresik dalam memahami makna dalam syair lagu aparat bangsat.
c.       Diharapkan mampu menjadi refrensi baru dalam penelitian selanjutnya.
1.5 Hipotesis Penelitian
1.      Ada pengaruh lagu “aparat bangsat” terhadap pola pikir kalangan masyarakat kota Gresik tentang pemerintah
2.      Ada pengaruh lagu “aparat bangsat” terhadap tindakan kalangan masyarakat kota Gresik tentang pemerintah
3.      Ada pengaruh lagu “aparat bangsat” terhadap pola pikir budaya punk tentang pemerintah melalui ajakan kepada masyarakat kota Gresik.
4.      Ada pengaruh lagu “aparat bangsat” terhadap tindakan kaum punk kepada pemerintah melalui ajakan kepada masyarakat kota Gresik.
5.      Ada pengaruh lingkungan terhadap perkembangan pola pikir masyarakat kota Gresik tentang budaya punk.
6.      Ada pengaruh lingkungan terhadap perkembangan pola pikir masyarakat kota Gresik tentang stereotype pemerintah







1.6  DEFINISI KONSEP
1.6.1  Sejarah Orde Baru
Orde Baru adalah sebutan bagi masa pemerintahan Presiden Soeharto di Indonesia. Orde Baru menggantikan Orde Lama yang merujuk kepada era pemerintahan Soekarno. Orde Baru hadir dengan semangat "koreksi total" atas penyimpangan yang dilakukan oleh Soekarno pada masa Orde Lama. Orde Baru berlangsung dari tahun 1966 hingga 1998. Dalam jangka waktu tersebut, ekonomi Indonesia berkembang pesat meskipun hal ini terjadi bersamaan dengan praktik korupsi yang merajalela di negara ini. Selain itu, kesenjangan antara rakyatyang kaya dan miskin juga semakin melebar. Presiden Soeharto memulai "Orde Baru" dalam dunia politik Indonesia dan secara dramatis mengubah kebijakan luar negeri dan dalam negeri dari jalan yang ditempuh Soekarno pada akhir masa jabatannya.
Pengucilan politik - di Eropa Timur sering disebut lustrasi - dilakukan terhadap orang-orang yang terkait dengan Partai Komunis Indonesia. Sanksi criminal dilakukan dengan menggelar Mahkamah Militer Luar Biasa untuk mengadili pihak yang dikonstruksikan Soeharto sebagai  pemberontak. Pengadilan digelar dan sebagian dari mereka yang terlibat "dibuang" ke Pulau Buru. Sanksi noncriminal diberlakukan dengan pengucilan politik  melalui  pembuatan aturan administratif.  Instrumen penelitian khusus diterapkan untuk menyeleksikekuatan lama ikut dalam gerbong Orde Baru.  KTP ditandai ET (eks tapol). Orde Baru memilih perbaikan dan perkembangan ekonomi sebagai  tujuan utamanya dan menempuh kebijakannya melalui struktur administrative yang didominasi militer namun dengan nasehat  dari ahli ekonomi didikan Barat. DPR dan MPR  tidak berfungsi secara efektif.  Anggotanya  bahkan seringkali  dipilih dari kalangan militer,  khususnya mereka yang dekat dengan  Cendana (keluarga soeharto).  Hal  ini mengakibatkan aspirasi  rakyat sering kurang didengar oleh pusat.
Pembagian PAD juga kurang adil karena 70% dari PAD tiap provinsi tiap tahunnya harus disetor kepada  Jakarta,  sehingga melebarkan jurang pembangunan antara pusat dan daerah. Soeharto siap dengan konsep pembangunan yang diadopsi dari seminar Seskoad II1966 dan konsep akselerasi pembangunan II yang diusung Ali Moertopo.  Soeharto merestrukturisasi  politik dan ekonomi dengan dwitujuan, bisa tercapainya stabilitaspolitik pada satu sisi dan pertumbuhan ekonomi di pihak lain. Dengan ditopang kekuatan Golkar, TNI, dan lembaga pemikir serta dukungan kapital internasional,Soeharto mampu menciptakan sistem politik dengan tingkat kestabilan politik yang tinggi.
Konflik Perpecahan Pasca Orde Baru di masa Orde Baru pemerintah sangat mengutamakan persatuan bangsa Indonesia. Setiap hari media massa seperti radio dan televise mendengungkan slogan "persatuan dan kesatuan bangsa". Salah satu cara yang dilakukan oleh pemerintah adalah meningkatkan transmigrasi dari daerah yang padat penduduknya seperti Jawa, Bali dan Madura ke luar Jawa, terutama ke Kalimantan, Sulawesi, Timor Timur,dan Irian Jaya. Namun dampak negatif yang tidak diperhitungkan dari program ini adalah terjadinya marjinalisasi terhadap penduduk setempat dan kecemburuan terhadap penduduk pendatang yang banyak mendapatkan bantuan pemerintah. Pada awal Era Reformasi konflik laten ini meledak menjadi terbuka antara lain dalam bentuk konflik Ambon dan konflik Madura-Dayak di Kalimantan. Sementara itu gejolak di Papua yang dipicu oleh rasa diperlakukan tidak adil dalam pembagian keuntungan pengelolaan sumber alamnya, juga diperkuat oleh ketidaksukaan terhadap para transmigran.
Dalam orde baru, juga melahirkan banyak penyimpangan seperti Semaraknya korupsi, kolusi, nepotisme, Pembangunan Indonesia yang tidak merata dan timbulnya kesenjangan pembangunan antara pusat dan daerah, sebagian disebabkan karena kekayaan daerah sebagian besar disedot ke pusat, Munculnya rasa ketidak puasan di sejumlah daerah karena kesenjangan pembangunan, terutama di Aceh dan Papua. Kecemburuan antara penduduk setempat dengan para transmigran yang memperoleh tunjangan pemerintah yang cukup besar pada tahun-tahun pertamanya. Bertambahnya kesenjangan sosial (perbedaan pendapatan yang tidak merata bagi si kaya dan si miskin), Pelanggaran HAM kepada masyarakat non pribumi (terutama masyarakat Tionghoa), Kritik dibungkam dan oposisi diharamkan, Kebebasan pers sangat terbatas, diwarnai oleh banyak koran dan majalah yang dibredel, Penggunaan kekerasan untuk menciptakan keamanan, antara lain dengan program "Penembakan Misterius", Tidak ada rencana suksesi (penurunan kekuasaan ke pemerintah/presiden selanjutnya), Menurunnya kualitas birokrasi Indonesia yang terjangkit penyakit “Asal Bapak Senang”, hal ini kesalahan paling fatal Orde Baru karena tanpa birokrasi yang efektif negara pasti hancur.
Menurunnya kualitas tentara karena level elit terlalu sibuk berpolitik sehingga kurang memperhatikan kesejahteraan anak buah. Krisis finansial AsiaPada pertengahan 1997, Indonesia diserang krisis keuangan dan ekonomi Asia (untuk lebih jelas lihat: Krisis finansial Asia), disertai kemarau terburuk dalam 50 tahun terakhir dan harga minyak, gas dan komoditas ekspor lainnya yang semakin jatuh. Rupiah jatuh, inflasi meningkat tajam, dan perpindahan modal dipercepat. Para demonstran, yang awalnya dipimpin para mahasiswa, meminta pengunduran diri Soeharto. Di tengah gejolak kemarahan massa yang meluas, Soeharto melakukan perlawanan dengan memakai pertahanan militer. Banyak korban berjatuhan sebelum akhirnya mengundurkan diri pada 21 Mei 1998, tiga bulan setelah MPR melantiknya untuk masa bakti ketujuh. Dari sinilah, kemudian marjinal mulai mengangkat lagu aparat bangsat sebagai semangat symbol perlawanan terhadap penindasan yang dipelopori orde baru.

1.6.2 Sejarah dan Perkembangan Punk
Punk lahir di Inggris dan Amerika Serikat pada pertengahan dan akhir dekade 1970-an sebagai respon spontan dari kondisi sosial, politik, dan ekonomi yang  buruk (perang dingin, krisis minyak, konflik kelas, pengangguran, kemiskinan, kesenjangan sosial). Beberapa kelompok anak muda dari kelas menengah dan pekerja yang tidak puas dengan kebijakan dalam dan luar negeri pemerintahnya melakukan semacam perlawanan melalui berbagai macam aktivisme. Selain aktivisme politik, perlawanan juga dilakukan melalui aktivisme seni dan budaya. Dengan semangat anti-kemapanan mereka bereksperimen dengan fashion dan musik yang berbeda dengan apa yang disajikan oleh industri budaya arus utama.
Dalam ranah musik, beberapa anak muda di Inggris dan Amerika pada akhir 1960-an dan awal 1970-an melakukan eksperimen dengan musikalitas mereka. Bosan dengan jenis musik yang disajikan oleh media arus utama (pop, glamour rock, disco), mereka berusaha menciptakan jenis musik yang cenderung berbeda dari yang pernah ada sebelumnya. Dengan mengkombinasikan karakter folk, rock ‘n’ roll, rockabilly, garage rock, doo-wop, blues, ska, dan reggae, anak-anak muda ini melahirkan genre baru yang disebut Dave Marsh (1971) dengan ‘punk rock’. Legs McNeil (1976) kemudian mempopulerkan istilah ‘punk’ melalui majalah independen (fanzine) yang ia bernama Punk Magazine. Baru pada akhir 1970-an, istilah ‘punk’ dan ‘punk rock’ diterima secara umum untuk mendeskripsikan jenis musik yang dimainkan oleh scene musik di New York, khususnya di klab CBGB dan Max’s Kansas City (Dunn 2008: 194).
Secara auditorial, musik punk mampu mentransmisikan energi yang dapat mendorong sebagian orang, baik itu musisi maupun audiens, untuk berani melepas energi negatif yang membelenggu dirinya. Jika kita mendatangi konser-konser musik punk atau underground, biasanya dapat ditemukan para penonton dan pemain melakukan head-banging dan moshing bersama-sama. Sekilas jika diperhatikan apa yang mereka lakukan (menabrakkan diri ke teman-teman yang lain, menari dan berjingkrak tak beraturan di depan panggung) tampak seperti sebuah aksi massa yang kacau dan tidak terkontrol, seolah seperti sebuah bentuk kekerasan massal. Tapi menurut Kevin C. Dunn (2008: 195) dalam artikelnya yang berjudul “Nevermind the Bollocks: the Punk Rock Politics of Global Communication”, aksi ‘brutal’ tersebut sebenarnya adalah bentuk eskpresi mereka untuk melepaskan diri dari segala beban mental dari kehidupan modern yang destruktif dan penuh kemunafikan.
Punk dapat masuk dan menyebar di Indonesia karena proses globalisasi. Meminjam teori globalisasi dari Fredric Jameson, Michael Bodden (2005: 2) menyebutkan bahwa dalam konteks negara yang otoriter dan represif, globalisasi dapat dilihat sebagai sesuatu yang positif. Berbagai bentuk ide dan produk budaya yang datang dari luar, dalam hal ini dapat memberikan semacam kebebasan kepada subjek yang hidup dalam negara tersebut. Menurut Bodden produk-produk budaya populer dari luar seperti Rap dan Punk, sangat membantu generasi muda Indonesia untuk berekspresi dalam tatanan politik dan budaya yang dibangun oleh Orde Baru (1966-1998).
Pada masa Orde Baru, sangat sulit bagi generasi muda untuk mengekspresikan dirinya secara bebas. Terkadang, istilah ‘bebas’ pun dianggap sebagai sesuatu yang ‘anomali’ dan subversif oleh kelompok dominan saat itu. Terkekangnya kebebasan berekspresi di Indonesia mempunyai sejarah yang panjang, yaitu sejak masa kolonial hingga lahirnya Orde Baru pada tahun 1966. Peristiwa pembunuhan 500 ribu sampai satu juta orang lebih (Heryanto 1999; Collins 2002; Farid 2005) yang dituduh aktivis dan pendukung Partai Komunis Indonesia (PKI) oleh militer dan ormas-ormas yang digerakkan oleh militer pada tahun 1965-1966 memberikan semacam ‘shock’ bagi kebanyakan rakyat Indonesia yang dampaknya masih terasa hingga sekarang. Setelah masa itu rakyat menjadi trauma untuk berbicara dan berpendapat secara bebas, apalagi mengkritik negara.
Orde Baru juga membatasi ruang gerak politik kaum terpelajar, khususnya mahasiswa. Melalui kebijakan ‘Normalisasi Kehidupan Kampus’ (NKK) pada tahun 1978 mahasiswa tidak diperkenankan melakukan politik praktis di dalam kampus. Setiap gerak-gerik mahasiswa pada saat itu selalu dikontrol oleh negara melalui kaki tangan negara pda level di universitas. Setiap kritik rakyat yang muncul dalam bentuk verbal maupun non-verbal selalu direspon dengan intimidasi, dan jika dinilai sangat ‘subversif’, ia akan berhadapan dengan militer.
Menurut Bodden (2005) Orde Baru juga mengajukan konsep ‘budaya nasional’ yang sebenarnya masih bersifat abstrak. Segala bentuk ekspresi budaya dari masyarakat yang dinilai tidak sesuai dengan karakter bangsa akan disensor bahkan dilarang untuk terus ada. Meskipun belum sampai tahap pelarangan, musik-musik Barat seperti punk rock, rap, dan metal dianggap oleh Orde Baru sebagai ‘Outlaw Genres’, atau jenis musik yang bertentangan dengan norma dan adat istiadat di Indonesia. Disebut ‘outlaw’ karena bentuk ekspresi dalam genre musik tersebut memuat elemen-elemen yang berpotensi melawan patronasi yang dibentuk oleh masyarakat dominan. 
Sejak tahun 1966 Orde Baru telah membawa Indonesia kedalam struktur kapitalisme global. Ide tentang perdagangan bebas, privatisasi dan komersialisasi diterima sebagai norma yang akan membawa Indonesia lebih maju dan sejahtera. Ketika Indonesia masuk ke dalam sistem ekonomi neo-liberal pada akhir 1980-an, pemerintah semakin gencar mengeluarkan kebijakan privatisasi sumber daya alam dan komersialisasi segala aspek kehidupan sehari-hari. Alih-alih membuat rakyat Indonesia sejahtera, sistem ekonomi neo-liberal menyebabkan semakin tingginya tingkat kemiskinan dan pengangguran, serta semakin lebarnya jurang pemisah antara yang kaya dengan yang miskin, pemilik modal dengan buruh.
Dalam konteks historis inilah budaya punk lahir dan berkembang di Indonesia. Budaya punk lahir sebagai respons kritis terhadap tatanan sosial, politik, budaya, dan ekonomi Orde Baru yang eksploitatif, opresif, dan hanya menguntungkan kelompok-kelompok elit. Jauh dari bentuk imperialisme budaya, punk disini justru diterima oleh kebanyakan anak muda Indonesia sebagai bentuk budaya yang mampu membebasan mereka dari belenggu neo-imperialisme negara yang berkolaborasi dengan aktor-aktor privat.


1.6.3  Sejarah Band Marjinal dan lagu Aparat Bangsat
Marjinal adalah sebuah group musik band dari sekian banyak gruop band indie di indonesia yang beraliran punk. Marjinal yang terinspirasikan atau ter-influncekan oleh Sex Pistols, Bob Marley, Leo Kristi, Toy Dolls, Bad Religion , The Crass, Benyamin S, dan Ramones memulai awal karirnya pada tahun 1997 ketika itu masih menggunakan nama AA (Anti ABRI ) dan AM (Anti Military ) dalam komunitas underground.
Band punk yang berformasikan awal (1997) Romi Jahat (vocal), Mike (gittar ), Bob (bass), Steven (drum), terbentuk atas latar belakang kesamaan dalam menyikapi belantika hidup satu sama lainnya. Mereka berusaha menyampaikan suatu pesan akan suatu penolakan maupun penerimaan dan harapan setelah apa yang dirasa , dilihat , di raba , dan di dengar dalam kehidupan sehari-hari.
Memasuki tahun 2001 band punk ini mulai menanggalkan nama AA dan AM, mereka resmi menggunakan nama baru yaitu Marjinal. Nama baru di dapat ketika Mike, sang vokalis terinspirasi oleh nama pejuang buruh perempuan “Marsinah..Marsinah..MArjinaL” asal Surabaya yang sangat berani dalam meperjuangkan haknya sebagai kaum buruh. Namun sayang belum sampai pada saatnya, marsinah wafat dalam tugas suci yang mulia akibat penyiksaan yang dilakukan oleh aparat berseragam loreng sebagai anjing-anjing peliharaan sang kapitalis. Tidak hanya itu Marsinah pun menginspirasikan Marjinal dalam meriliskan album ke-3 dengan judul album ”Marsinah” bercoverkan wajah marsinah dengan format hitam putih. Luar biasa, Judul lagu ”Marsinah” yang sama dengan judul albumnya, sangat familiar sekali karena banyak kalangan anak muda menyanyikan lagu ”Marsinah” di tongkrongan, studio musik, bahkan dalam sebuah pagelaran musik.
Di tahun 2005 Marjinal kembali menelorkan album ke-4 dengan tema sang ”Predator” yang terdiri kaset 1 & 2. Proses penggarapan album ke-4 ini sudah megalami kemajuan karena di dukung dengan alat yang mumpuni, sangat berbeda jauh sekali jika bandingkan album sebelumnya, baik di lihat dari design cover maupun hasil rekaman kaset.
Selama kiprahnya di industri musik indie, Marjinal sudah mengalami beberapa kali gonta-ganti atau bongkar pasang personil, dan sampai saat sekarang ini marjinal masih di perkuat oleh Romi Jahat (vocal), Mike ( gitar), bob (bass), Proph (drum) yang kini untuk terus berjalan bersama agar tetap hidup berusaha menyampaikan pesan sebuah amanat penderitaan rakyat yang dituangkan dalam bentuk media musik.
Selain  predator, marjinal juga memiliki sebuah lagu yang di dalamnya menggambarkan kisah para demonstran yang “chaos” melawan pemerintah. Dalam kasus ini, marjinal mengangkat Orde Baru sebagai pemeran antagonis nomer satu dalam perjuangan kaum marjinal tersebut. Terlihat dengan kasus-kasus yang diangkatnya adalah kasus yang terjadi pada zaman Suharto. Inilah penggambarannya :
Indonesia negri berdarah, Berbagai macam peristiwa
Banyak rakyat yang ditembaki, untuk Negara demokrasi.
Dalam sajak tersebut, terungkap bahwa marjinal memakai paradox kalimat yang dramatis, seolah menggambarkan Negara yang demokratis, namun kenyataannya otoriter (menembaki rakyat).
Ambon, Aceh dan Timor Leste (Serta tragedi yang lainya)
Sudah banyak saudara kita (Yang jadi korban demi harta)
Tragedi Semanggi, tragedi Trisakti, tragedy 27 Juli
Peristiwa Ambon, peristiwa Tanjung Periok, Peristiwa Malari Banyuwangi
Dalam sajak di atas, marjinal mencoba mengingatkan audiens tentang kejadian-kejadian Orde Baru yang dijadikan rujukan dalam lagu.
Sampai kapan ini terjadi? Dijajah bangsa sendiri?
Ayo kawan rapatkan barisan, untuk melawan penindasan,
Tentara keparat, aparat bangsat, militer anjing tai kucing
Dan kemudian dengan kalimat di atas, marjinal mulai melakukan penyadaran yang bersifat persuasive, mengajak audiens untuk turut tergerak dengan kata pembangkitnya yang merupakan symbol pengucilan terhadap tentara, aparatur, dan militer.



1.7  KERANGKA TEORI
Setiap penelitian memerlukan kejelasan titik tolak atau landasan berpikir dalam memecahkan atau menyoroti permasalahannya. Untuk itu perlu disusun kerangka teori yang memuat pokok-pokok pikiran yang menggambarkan dari sudut mana akan disoroti (Nawawi,2001:39). Dalam penelitian tentang STEREOTIP PEMERINTAH MELALUI ANALISIS WACANA DALAM LAGU APARAT BANGSAT ini garis besarnya ada di analisis wacana kritis (Critical Discourse Analisys) dengan tehnik penelitian gabungan antara kualitatif dan kuantitatif. Penelitian pun menggunakan tehnik kuantitatif untuk menentukan angka pengaruh dari lagu tersebut, sedangkan tehnik kualitatif dimaksudkan untuk ngurai makna dan stereotype yang terkandung dalam lagu tersebut.

1.7.1  Critical Discourse Analisys
Dalam pelaksanaannya, analisis wacana untuk ilmu komunikasi ditempatkan sebagai bagian dari metode penelitian sosial dengan pendekatan kualitatif. Sebagaimana dimaklumi dalam penelitian sosial, setiap permasalahan penelitian selalu ditinjau dari perspektif teori sosial (dalam hal ini teori-teori komunikasi). Analisis wacana sebagai metode penelitian sosial tidak hanya mempersoalkan bahasa (wacana) melainkan pula dikaitkan dengan problematika sosial.
Lebih dari itu, sebagai bagian dari metode penelitian sosial dengan pendekatan kualitatif, analisisis wacana ini juga mamakai paradigma penelitian. Dengan demikian proses penelitiannya tidak hanya berusaha memahami makna yang teradapat dalam sebuah naskah, melainkan acapkali menggali apa yang terdapat di balik naskah menurut paradigma penelitian yang dipergunakan.
Aplikasi analisis wacana dimulai dengan pemilihan naskah (text, talk, act, song, and artifact) dalam suatu bidang masalah sosial, misalnya lagu tentang politik. Selanjutnya kita memilih tiga perangkat analisis wacana yang saling berkaita: perpektif teori, paradigma penelitian, dan metode analisis wacana itu sendiri. Dari penerapan ketiga perangkat tadi secara simultan terhadap naskah yang dipilih akan diperoleh hasil penelitian analisis wacana.
Untuk perspektif  teori, dalam analisis wacana sebagai metode penelitian sosial lazimnya memakai dua jenis teori: teori substantif dan teori wacana. Teori substantif di sini adalah teori tertentu yang sesuai dengan tema penelitian, misalnya teori politik, teori kekuasaan, teori gender, teori ekonomi-politik, teori ideologi, dan sebagainya. Teori subtanstif diperlukan untuk menjelaskan bidang permasalahan penelitian analisis wacana dari perpektif teori yang bersangkutan.
Lebih lanjut, Fairclough dan Wodak berpendapat bahwa analisis wacana adalah bagaimana bahasa menyebabkan kelompok sosial yang ada bertarung dan mengajukan ideologinya masing-masing. Berikut disajikan karakteristik penting dari analisis kritis menurut mereka11 above:
1.      Tindakan. Wacana dapat dipahami sebagai tindakan (actions) yaitu mengasosiasikan wacana sebagai bentuk interaksi. Sesorang berbicara, menulis, menggunakan bahasa untuk berinteraksi dan berhubungan dengan orang lain. Wacana dalam prinsip ini, dipandang sebagai sesuatu yang betujuan apakah untuk mendebat, mempengaruhi, membujuk, menyangga, bereaksi dan sebagainya. Selain itu wacana dipahami sebagai sesuatu yang di ekspresikan secara sadar, terkontrol bukan sesuatu di luar kendali atau diekspresikan secara sadar.
2.       Konteks. Analisis wacana mempertimbangkan konteks dari wacana seperti latar, situasi, peristiwa dan kondisi. Wacana dipandang diproduksi dan di mengerti dan di analisis dalam konteks tertentu. Guy Cook menjelaskan bahwa analisis wacana memeriksa konteks dari komunikasi: siapa yang mengkomunikasikan dengan siapa dan mengapa; kahalayaknya, situasi apa, melalui medium apa, bagaimana, perbedaan tipe dan perkembangan komunikasi dan hubungan masing-masing pihak. Tiga hal sentaralnya adalah teks (semua bentuk bahasa, bukan hanya kata-kata yang tercetak dilembar kertas, tetapi semua jenis ekspresi komunikasi). Konteks (memasukan semua jenis situasi dan hal yang berada dilar teks dan mempengaruhi pemakaian bahasa, situsai dimana teks itu diproduksi serta fungsi yang dimaksudkan). Wacana dimaknai sebagai konteks dan teks secara bersama. Titik perhatianya adalah analisis wacana menggambarkan teks dan konteks secara bersama-sama dalam proses komunikasi.
3.      Historis, menempatkan wacana dalam konteks sosial tertentu dan tidak dapat dimengerti tanpa menyertakan konteks.
4.      Kekuasaan. Analisis wacana mempertimbangkan elemen kekuasaan. Wacana dalam bentuk teks, percakapan atau apa pun tidak di pandang sebagai sesuatu yang alamiah wajar dan netral tetapi merupakan bentuk pertarungan kekuasaan. Konsep kekuasaan yang dimaksudkan adalah salah satu kunci hubungan anatara wacana dan masyarakat.
Ideologi adalah salah satu konsep sentral dalam analisis wacana kritis karena setiap bentuk teks, percakapan dan sebaginya adalah paraktik ideologi atau pancaran ideologi tertentu. Dalam hal ini, punk merupakan ideology sebagai bahan penelitian.



1.7.2 Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif
Penelitian kualitatif disebut juga penelitian naturalistik, interpretatif, konstruktivis, naturalistik-etnografik, pendekatan fenomenologis dan penelitian dengan pola pencarian dari dalam, memulai kegiatannya dengan konsep-konsep yang sangat umum, kemudian selama penelitian, konsep-konsep yang sangat umum itu diubah-ubah dan direvisi sampai bertemu dengan kesimpulan yang sangat kuat. Dengan kata lain, variabel ditemukan dan dirumuskan kembali, bukan di awal. variabel merupakan produk penelitian yang ditemukan kemudian. penelitian kualitatif menggunakan lensa besar dan menampak serta memperhatikan pola-pola saling berhubungan antara berbagai variabel yang sebelumnya belum pernah ditemukan. Pendekatan kualitatif adalah pendekatan holistik, menyeluruh.
Penelitian kualitatif menjadikan peneliti sendiri sebagai instrumen penelitian untuk mengumpulkan data atau informasi. Peneliti diminta luwes dan mampu membuat atau memberikan pandangan sendiri atas hal-hal atau fenomena-fenomena yang dilihatnya. penelitian kualitatif masalah penelitian tidak dapat di formulasikan secara jelas dan jawaban dari responden juga sangat kompleks, sehingga wawancara mendalam mungkin sangat efektif dalam pengumpulan data. Penelitian kualitatif cenderung tertarik dengan konsep-konsep, bukan berapa kalinya sesuatu.
Penelitian kuantitatif disebut juga penelitan rasionalistik, fungional, positivisme, dan penelitan dengan pola pencarian kebenaran dari luar, mengisolasi variabel-variabel dan kemudian menghubungkannya dalam hipotesis. Selanjutnya menguji hipotesis itu dengan data yang dikumpulkan. variabel-variabel menjadi alat atau komponen utama dalam melakukan analisis.
penelitian kuantitatif memandang melalui lensa kecil, melihat dan memilih serta memperhatikannya hanya beberapa buah variabel saja. penelitian kuantitatif menggunakan instrumen yang ditentukan terlebih dahulu, dan instrumennya sangat tidak fleksibel dan juga tidak reflektif yaitu tidak mengandung interpretasi. Penelitian kuantitatif menuntut jawaban yang pasti, jelas, tidak ambigu, dan oleh karena itu instrumen dalam bentuk kuesioner mungkin sangat tepat dalam pengumpulan data. penelitian kuantitatif juga bermain dengan angka-angka, yaitu mengkuantifikasi sampel terhadap populasi, dan mengangkakan karakteristik variabel-variabel penelitian.





1.8  TINJAUAN PUSTAKA
1.8.1  M. YASSER ARAFAT - NIM. 02541168, (2008) KONSTRUKSI FORMASI DIRI DALAM LIRIK LAGU SLANK (Studi Analisis Wacana Kritis Atas Lirik Lagu Slank). Skripsi thesis, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Slank adalah grup musik besar di Indonesia. Slank telah memproduksi 15 album, 4 album live, 6 album the best, beberapa lagu independen, dan pada tahun 2008 ini, Slank akan memproduksi album internasional. Melalui musik, Slank berbicara tentang apa saja; diri, sikap, lingkungan, bangsa dan negara, hingga dunia kesehariannya yang remeh. Satu hal yang menarik minat penulis adalah bahwa di dalam lirik lagunya, Slank menampilkan proses individu yang membentuk dirinya. Diri adalah pencapaian keberadaan individu sebagai manusia yang berinteraksi dengan dirinya sendiri, masyarakatnya, dan kebudayaannya. Diri merupakan proses mental yang tidak ditentukan oleh kesadaran psikologis, melainkan oleh proses sosial. Sosiologi diri merupakan sesuatu yang mencakup ketunggalan individu dan masyarakat. Sedangkan formasi diri adalah bentuk diri individu yang mengendap menjadi suatu model interaksi di dalam proses sosial.
Meski telah menjadi model, formasi diri tidak pernah berhenti di dalam proses sosial. Secara teoretik, keterbentukan diri dalam lirik lagu Slank dapat dilacak dengan menggunakan teori dialektika fundamental Peter L. Berger, yaitu momentum eksternalisasi, internalisasi, dan obyektivasi. Hal tersebutlah yang penulis teliti dalam 5 lirik lagu Slank: Anak Terbuang, Generasi Biru, Ngangkang, Virus, dan Slankisme, dengan hermeneutika sebagai pendekatan, dan Analisis Wacana Kritis (AWK) sebagai teknik analisis. Hermeneutika dipakai untuk menafsirkan lirik lagu Slank sebagai teks yang berbicara. Peneliti berfungsi sebagai penafsir yang memahami (verstehen) makna teks. Sedangkan AWK dipakai untuk melihat lirik lagu sebagai wacana yang sarat makna, pengaruh, kekuasaan, ideologi, dan kepentingan.
Analisis atas lirik lagu Slank menghasilkan tiga model formasi diri. Pertama, resistensi. Kedua, dialog. Ketiga, konformisme. Tiga model ini terbentuk melalui proses dialektika individu yang mengeksternalisasi, mengobyektivasi, dan menginternalisasi di dalam dunia. Proses itu tidak berhenti di model ketiga. Ia selalu berdialektika selama individu menjalani hidupnya di dunia. Aktivitas individu untuk membangun tatanan manusiawi yang diresapi dalam formasi dirinya menjadikan hal itu sebagai kosmos yang keramat. Itulah agama dalam formasi diri yang hadir sebagai fenomena manusiawi, bukan agama sebagai wahyu Tuhan. Sebagai teks yang diproduksi oleh grup musik, maka konteks aktor yang sedang membentuk formasi diri di dalam teks lirik lagu Slank itu adalah Slank itu sendiri. Hal ini dapat dibuktikan dengan usaha rekonstruksi dan pembagian sejarah Slank ke dalam tiga fase formasi diri di atas. Sedangkan historisitasnya dan posisi agama di dalamnya, dibentuk oleh; budaya massa, karakter seniman, kultur Rock N' Roll, dan sekularisasi. Pemahaman kontekstual atas formasi diri dapat diletakkan dalam persoalan pencarian arah diri kultural bangsa Indonesia. Hal ini terkait dengan realitas globalisasi dan eksistensi tradisi di Indonesia, atau antara nilai baru yang progresif dan nilai lama yang konservatif. Tiga formasi diri yang penulis ungkap di atas, memiliki relevansi dalam persoalan itu. br br

1.8.2  Setiowati, Endang and Pravita Wahyuningtyas, Bhernadetta (2011) MARJINALISASI PEREMPUAN PERTAMA MELALUI LAGU SUATU ANALISIS WACANA KRITIS TERHADAP LAGU JADIKAN AKU YANG KEDUA. Jurnal Humaniora, 02 (02). ISSN 2087-1236

Sepanjang 2006 dan 2007, ada banyak lagi yang liriknya mengandung makna perselingkuhan atau poligami. Hal itu juga diikuti dengan fenomena poligami dan perselingkuhan yang dilakukan oleh para tokoh masyarakat terkenal dari pebisnis, politisi, sampai akademisi. Satu dari lagu terkenal itu berjudul Jadikan Aku yang Kedua. Secara mengejutkan, walaupun judul lagu tersebut menunjukkan lagunya bermakna poligami, mayoritas pendengar yang meminta lagu itu di radio adalah wanita.
Penelitian ini menunjukkan tentang marginalisasi wanita yang dibicarakan dalam lirik lagu ini. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis wacana kritis dengan teknik analisis menggunakan model Norman Fairclough. Artikel ini juga menggunakan kerangka teoritis subtantif, yaitu hegemoni, ideologi, dan feminism serta teori analisis kajian dari Michael Foucault. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lagu tersebut merupakan kajian untuk memarginalkan wanita pertama, tetapi menguatkan wanita kedua. Penulis lagu memiliki kemampuan untuk merefleksikan ideologi pendengar terhadap ideologi patriarki, dan menggunakannya untuk menyemangati wanita untuk berani menjadi yang kedua.

1.8.3 Nadya Nurfadhillah Delima Perpustakaan Universitas Indonesia >> UI – Skripsi ANALISIS WACANA KRITIS LIRIK LAGU EMINEM

Skripsi ini menganalisis sebuah lirik lagu Eminem yang berjudul Brain Damage dari albumnya The Slim Shady Show. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Analisis skripsi ini terfokus pada kata-kata yang digunakan dan ragam bahasa Black English dan slang Amerika yang terdapat dalam lirik lagu Brain Damage. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui maksud penggunaan kata-kata tertentu dan Black English serta slang Amerika dalam lirik lagu tersebut dan hubungannya dengan latar belakang kehidupan Eminem dahulu. Penulis mengaitkan teori analisis wacana kritis dengan teori transkultural Pennycook, black English, dan slang Amerika, untuk menganalisis lirik lagu tersebut dan melihat penyebaran budaya hiphop. Hasil penelitian membuktikan bahwa terdapat hubungan antara latar belakang kehidupan Eminem dengan penggunaan kata-kata tertentu dalam lirik lagunya.




Daftar Pustaka

·         M. Yasser arafat - nim. 02541168, (2008) konstruksi formasi diri dalam lirik lagu slank (Studi Analisis Wacana Kritis Atas Lirik Lagu Slank). Skripsi thesis, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 04 May 2012. Digital library : Blog. [diakses 27 oktober 2012],  http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/988
·         Eriyanto. 2001. Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LKIS
·         Jurnal Humaniora > Volume 02 / Nomor 02 / October 2011_marjinalisasi perempuan pertama melalui lagu suatu analisis wacana kritis terhadap lagu jadikan aku yang kedua [Accessed 27 Oktober 2012], http://eprints.binus.ac.id/id/eprint/13956
·         Bagong Suyanto dan Sutinah. 2006. Metode Penelitian Sosial. Jakarta: Kencana
·         Ahmad 2012  Metode Penelitian Sosial : Analisis Wacana Kritis. Lecture notes distributed in the topic presentation of Critical Discourse Analisys. Trunojoyo University, Man-Made on October 2012
·         Scrib.com  [diakses 24 Oktober 2012] Web : http://www.scribd.com/doc/14978692/sejarah-orde-baru
·         Tesisdisertasi.blogspot.com [diakses 25 Oktober 2012] , http://tesisdisertasi.blogspot.com/2009/12/rumus-rumus-pengambilan-sampel.html
·         4skripsi.com [diakses 25 Oktober 2012] http://www.4skripsi.com/metodologi-penelitian/penelitian-korelasi.html#axzz2AVX9zgz9

0 komentar:

Posting Komentar

 
Free Website templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos Onlinefreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesFree Soccer VideosFree Wordpress ThemesFree Web Templates